LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR TENAGA LISTRIK
Percobaan 2
Motor Seri
Oleh :
Kelompok 1
1. M. Zahroni Firdaus (111903102001)
2. Antonius
Ari S. (111903102002)
3. Wildan
Huda (111903102003)
4. Herdianto
(111903102004)
5. Septian
Mahmud P. (111903102005)
6. Wisudanto
Catur Putra R. (111903102006)
LABORATORIUM KONVERSI
ENERGI LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRONIKA
DIPLOMA 3
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
2012
PERCOBAAN 2
MOTOR DC SERI
2.1 Tujuan
percobaan
1.
Mengetahui rugi-rugi rotasional (stray power losses)
dengan melakukan uji tanpa beban.
2.
Mengetahui hubungan antara arus line, kecepatan motor
dan tegangan masukan motor pada kondisi berbeban.
2.2
Dasar Teori
Gambar 2.1 Rangkaian Skematik Motor DC Seri
Gambar 2.2 Rangkaian Pengawatan Motor DC Seri
Motor seri sebenarnya adalah mesin
yang sama dengan generator seri,yang membedakan hanya pemanfaatannya.saat di
operasikan sebagai motor,pada mesin DC seri juga berlaku persamaan :
Vin
= Eg - IL( Ra + Rs ) …….(1.6)
Ia
= Is = IL …….(1.7)
Dimana :
Eg =
Tegangan induksi yang dihasilkan pada jangkar
Vin =
Tegangan terminal generator
Ia =
Arus jangkar
Is =
Arus medan seri
IL =
Arus line
Ra =
Resistansi kumparan jangkar
Rs =
Resistansi kumparan medan seri
Saat dioperasikan tanpa beban, pada
motor DC seri juga berlaku:
Pin = SP losses + Copper Losses
Vin x IL = SP losses + Ia2 x
Ra + Ish2 x Rsh .......(1.8)
SP losses = Vin x IL – (Ia2 x
Ra + Ish2 x Rsh)
Jika motor dibebani,
maka daya akan diserap oleh motor (Pin
= Vin x IL) merupakan penjumlahan daya output
mekanik yang dibutuhkan beban Pout
dengan rugi-rugi Ploss
Pin
= Vin x IL ……(1.9)
= Pout + Ploss
……(2.0)
Penurunan kecepatan
pada saat motor dibebani (beban generator ditambah) diakibatkan adanya GGL
lawan yang besarnya sebanding dengan Ia. Dengan demikian, karena besarnya Ia
tergantung besarnya IL, maka dapat diturunkan hubungan antara kecepatan putaran
generator dengan IL.
N(IL) =
nNL – K x IL
……(2.1)
2.3 Daftar Alat Dan Bahan
1.
Mesin DC shunt
2.
Mesin DC Compound
3.
Beban-beban
4.
Multimater
5.
Penyearah
6.
Kabel Penghubung
2.4 Gambar
Rangkaian Percobaan
Gambar 2.3 Rangkaian
Percobaan Motor Seri
AVR = Automatic Voltage Regulator
Rect. = Rectifier
MDC 1 = Motor DC shunt
MDC 2 = Generator DC penguatan seri
2.5 Prosedur Percobaan
·
Percobaan
Motor Seri Tanpa Beban.
1.
Menghubungkan MDC 1 sebagai motor seri.
2.
Menghubungkan semua instrumen pengukur dan power supply
seperti dalam gambar 2.3 (kopling motor – generator dilepas)
3.
Meminta asisten memeriksa koneksi peralatan sebelum menyalakan
semua power supply.
4.
Menaikkan tegangan input motor secara bertahap sampai
dicapai kecepatan nominal.
5.
Mencatat nilai pada pembacaan voltmeter (Vin) dan amperemeter (IL).
6.
Menghitung SP Losses rata-rata.
7.
Melakukan analisis data dan membuat kesimpulan.
·
Percobaan
Motor Seri Berbeban.
1.
Menghubungkan MDC 1 (memasang kopling) dengan MDC 2
yang dioperasikan sebagai generator DC seri.
2.
Menghubungkan semua instrumen pengukur dan power supply
seperti dalam gambar 2.3
3.
Meminta asisten memeriksa koneksi peralatan sebelum
menyalakan semua power supply.
4.
Menaikkan tegangan input pada nilai tegangan yang
menghasilkan putaran nominal pada percobaan berbeban.
5.
Menaikkan beban generator secara bertahap dengan
menjaga tegangan input pada nilai nominalnya (tegangan yang menghasilkan
putaran nominal pada uji berbeban).
6.
Mencatat nilai pada pembacaan voltmeter (Vin) dan amperemeter (IL) serta pembacaan
tachometer.
7.
Menggambarkan kurva putaran sebagai fungsi arus beban.
8.
Menghitung efisiensi motor dalam keadaan berbeban.
9.
Melakukan analisis data dan membuat kesimpulan.
2.6 Data Hasil
Percobaan
·
Percobaan Motor DC Tanpa
Beban
|
MDC 1
Hubungan Penguatan : Shunt
|
||||||||||
|
MDC 2 Hubungan Penguatan :
Seri
|
||||||||||
|
Ra
= 3,2Ω Rsh = 9,5Ω
|
||||||||||
|
IL (A)
|
0
|
0,348
|
0,75
|
1
|
1,05
|
1,07
|
1,12
|
1,14
|
1,159
|
1,162
|
|
Ia (A)
|
0
|
0,348
|
0,75
|
1
|
1,05
|
1,07
|
1,12
|
1,14
|
1,159
|
1,162
|
|
Ish (A)
|
0
|
0,348
|
0,75
|
1
|
1,05
|
1,07
|
1,12
|
1,14
|
1,159
|
1,162
|
|
Vin (V)
|
0
|
5
|
10
|
15
|
20
|
25
|
30
|
35
|
40
|
45
|
|
n(RPM)
|
0
|
0
|
0
|
153,0
|
403,0
|
678,7
|
926,2
|
1215
|
1438
|
1707
|
|
Pin=Vin.IL
|
0
|
1,74
|
7,5
|
15
|
21
|
26,75
|
33,6
|
33,9
|
46,36
|
52,29
|
|
Vin.Ia
|
0
|
0,387
|
1,8
|
3,2
|
3,53
|
3,66
|
4,01
|
4,16
|
4,3
|
4,32
|
|
Vin.Ish
|
0
|
1,15
|
5,34
|
9,5
|
10,47
|
10,87
|
12
|
12,34
|
12,76
|
12,82
|
|
SPLosses
|
0
|
0,2035
|
0,36
|
2,3
|
7
|
12,25
|
17,6
|
23,4
|
29,3
|
35,145
|
·
Percobaan Motor DC Berbeban
|
MDC 1
Hubungan Penguatan : Shunt
|
||||
|
MDC 2 Hubungan Penguatan : Seri
|
||||
|
Ra
= 3,2 Ω Rsh = 9,5Ω
|
||||
|
IL (A)
|
1,04
|
1,17
|
1,2
|
1,24
|
|
Ia (A)
|
1,04
|
1,17
|
1,2
|
1,24
|
|
Ish (A)
|
1,04
|
1,17
|
1,2
|
1,24
|
|
Vin (V)
|
45
|
45
|
45
|
45
|
|
n(RPM)
|
1690
|
1677
|
1666
|
1655
|
|
Pin = Vin.IL
|
46,8
|
52,65
|
54
|
55,8
|
|
Vin.Ia
|
3,46
|
4,38
|
4,6
|
4,92
|
|
Vin.Ish
|
10,27
|
13
|
13,68
|
14,6
|
|
Total Rugi
|
48,7
|
52,48
|
53,38
|
54,65
|
|
%η
|
-4,2
|
0,32
|
1,13
|
2,06
|
|
L (beban)
|
0
|
60
|
80
|
100
|
|
Pout
|
-1,96
|
0,17
|
0,612
|
1,15
|
2.7 Analisa
Data
2.7.1 Grafik
·
Motor Seri Berbeban
·
Motor Seri Berbeban
Wisudanto Catur Putra Ragil(111903102006)
Pada
percobaan yang ke dua membahas tentang
Motor DC Seri.Motor seri sebenarnya adalah mesin yang sama dengan generator
seri, yang membedakan hanya pemanfaatannya saja.Seperti gambar di bawah ini
merupakan skematik motor DC Seri :
Gambar 2.4 Rangkaian Skematik Motor DC Seri dan
Rangkaian Pengawatan Motor DC Seri
Motor
DC adalah termasuk salah satu variable speed motor. Karakteristik utama motor
DC seri adalah fluksi pada medan motor akan sebanding dengan arus yang mengalir
pada jangkar motor. Apabila beban dari motor meningkat maka fluksi di motor
juga akan meningkat. Torka pada motor sebanding dengan fluksi dan arus jangkar,
karena fluksi pada motor DC seri sebanding dengan arus, maka torka pada motor
DC seri akan sebanding dengan kuadrat arus jangkar. Kekurangan dari motor DC
seri adalah kecepatan motor bervariasi terhadap perubahan beban, kecepatan
motor DC berbanding terbalik dengan fluksi, karena fluksi berubah-ubah
mengikuti perubahan torka beban maka kecepatan juga ikut berubah-ubah akibat
beban tersebut.
Kecepatan ini
dapat diubah dengan cara mengubah nilai arus medan maupun arus jangkar. Ketika arus
medan berkurang, maka fluks berkurang sehingga menyebabkan arus jangkar bertambah,
sehingga kecepatan motor naik. Kami melakukan prosedur kerja yaitu berawal dari
AVR (Automatic Voltage Regulator) yang dihubungkan pada rectifier kemudian
diseri dengan motor DC seri dan generator DC dan mencatat hasil percobaan untuk
yang tidak berbeban. Untuk berbeban, prosedurnya sama hanya saja dari generator
langsung ke beban.
Kelebihan dari Motor DC seri yaitu daya output
yang dihasilkan besar. Sedangkan kelemahannya yaitu arus beban yang diminta
sangatlah besar, sesuai dengan beban yang dipikulnya, jika tegangan inputnya
tidak stabil maka fluks magnet yang dihasilkan oleh kumparan seri tidak stabil
pula, sehingga daya output yang dihasilkan tidak stabil.
Motor
DC Jenis Seri Motor ini terdiri dari medan seri dibuat dari sedikit lilitan
kawat besar yang dihubungkan seri dengan jangkar. Jenis motor DC ini mempunyai
karakteristik torsi start dan kecepatan variable yang tinggi. Ini berarti bahwa
motor dapat start atau menggerakkan beban yang sangat berat, tetapi kecepatan
akan bertambah kalau beban turun. Motor DC seri dapat membangkitkan torsi
starting yang besar karena arus yang sama yang melewati jangkar juga melewati
medan. Jadi, jika jangkar memerlukan arus lebih banyak, arus ini juga melewati
medan, menambah kekuatan medan. Oleh karena itu, motor seri berputar cepat
dengan beban ringan dan berputar lambat saat beban ditambahkan. Kemudian dalam
melakukan percobaan, kami mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui rugi-rugi
rotasional (stay power loses) dengan melakukan uji tanpa beban. Kemudian tujuan
yang kedua mengetahui hubungan arus line, kecepatan motor dan tegangan masukan
motor pada kondisi berbeban. Kami melakukan prosedur kerja yaitu berawal dari
AVR (Automatic Voltage Regulator) yang dihubungkan pada rectifier kemudian
diseri dengan motor DC seri dan generator DC dan mencatat hasil percobaan untuk
yang tidak berbeban. Untuk berbeban, prosedurnya sama hanya saja dari generator
langsung ke beban
Dari hasil percobaan
yang kami lakukan, kami mendapatkan data-data untuk hasil yang tanpa beban
adalah besar arus medan seri, arus jangkar dan arus line sama yaitu berurutan 0
A, 0.348 A, 0.75 A, 1 A, 1.05 A, 1.07 A, 1.12 A, 1.14 A, 1.159 A, dan 1.162 A.
Untuk besar tegangan masuk 0 V, 5V, 10 V, 15 V, 20 V, 25 V, 30 V, 35 V, 40 V,
dan 45 V. Pada kecepatan putar diperoleh 0, 0, 0, 153.0, 403.0, 678.7, 926.2,
1215, 1438, 1707. Kemudian dari hasil perhitungan untuk mengetahui besar daya
yang masuk adalah 0 watt, 1.74 watt, 7.5 watt, 15 watt, 21 watt, 26.75 watt,
33.6 watt, 39.9 watt, 46.36 watt, dan 52.29 watt. Pada perhitungan SP loses
diperoleh hasil yaitu 0, 0.2035, 0.36, 2.3, 7, 12.25, 17.6, 23.4, 29.3, dan
35.145. Besar dari resistansi kumparan jangkar adalah 3.2 Ohm dan resistansi
kumparan medan seri 9.5 Ohm.
Pada data hasil
percobaan untuk berbeban, dari Ra = 3.2 Ohm dan Rsh = 9.5
Ohm kami mendapatkan arus line, arus jangkar dan arus medan seri secara
berturut-turut yaitu 1.04 A, 1.17 A, 1.2 A, dan 1.24 A. Dari tegangan masuk 45
V kami juga memperoleh kecepatan putar 1690, 1677, 1666, dan 1655. Kemudian dari hasil perhitungan
kami memperoleh daya masukan sebesar 46.8 watt, 52.65 watt, 54 watt dan 55.8
watt. Dari data-data diatas kami memperoleh rugi tembaga, SP loses, total rugi
dan daya yang keluar. Beban yang diatur yaitu sebesar 0, 60, 80, dan 100. Kami
memperoleh total rugi 48.7, 52.48, 53.388, dan 54.65. Kami juga memperoleh SP
loses rata-rata yaitu 35.1 yang pada akhirnya kami mendapatkan ratio persen
adalah -4.2 %, 0.32 %, 1.13 %, dan 2.06 %. Maka dapat disimpulkan hubungan
antara arus line dengan kecepatan motor adalah berbanding lurus pada kondisi
berbeban.
Pada paktikum ini kami
juga mendapatkan hasil grafik tanpa beban, hubungan antara tegangan masuk
dengan kecepatan putar adalah berbanding lurus, dikarenakan jika tegangan masuk
semakin besar maka semakin besar pula kecepatan putar motor. Sedangkan pada
hubungan antara tegangan masuk dengan arus line juga sama yaitu berbanding
lurus. Semakin besar tegangan masuk maka semakin besar pula arus line. Untuk
hubungan motor seri yang berbeban, hubungan antara tegangan masuk dengan
kecepatan putar motor adalah tetap dikarenakan semakin kecil kecepatan putar
motor maka besar tegangan yang masuk adalah tetap. Sedangkan hubungan antara tegangan masuk dengan arus
line adalah tetap. Semakin besar arus line maka nilainya tetap pada tegangan
masuknya.
Dalam praktikum yang telah kami lakukan, kami
tidak sepenuhnya mendapatkan nilai pengukuran yang tepat.Hal tersebut
dikarenakan kendala–kendala yang mempengaruhi nilai dari pengukuran
diantaranya: kesalahan kalibrasi alat ukur,kurang telitinya pembacaan alat
ukur, kabel penghubung yang kurang baik, dan lain-lain.
2.7.2
Pembahasan
Muhammad Zahroni Firdaus
(111903102001)
Motor
seri sebenarnya adalah mesin yang sama dengan generator seri, yang membedakan
hanya pemanfaatannya saja. Saat dioperasikan sebagai motor, pada mesin DC juga
berlaku persamaan :
Vin
= Eg – IL (Ra + Rs)
Ia
= Is = IL
Dimana
:
Eg = tegangan induksi yang dihasilkan pada
jangkar
Vout = tegangan terminal pada jangkar
Ia = arus jangkar
Is = arus medan seri
IL = arus line
Ra = resistansi kumparan jangkar
Rs = resistansi kumparan medan seri
Kelebihan dari Motor DC seri yaitu daya output
yang dihasilkan besar. Sedangkan kelemahannya yaitu arus beban yang diminta
sangatlah besar, sesuai dengan beban yang dipikulnya, jika tegangan inputnya
tidak stabil maka fluks magnet yang dihasilkan oleh kumparan seri tidak stabil
pula, sehingga daya output yang dihasilkan tidak stabil.
Seperti gambar di bawah ini merupakan skematik motor DC Seri :
Gambar 2.5 Rangkaian Skematik Motor DC Seri dan
Rangkaian Pengawatan Motor DC Seri
Motor
DC Jenis Seri Motor ini terdiri dari medan seri dibuat dari sedikit lilitan
kawat besar yang dihubungkan seri dengan jangkar. Jenis motor DC ini mempunyai
karakteristik torsi start dan kecepatan variable yang tinggi. Ini berarti bahwa
motor dapat start atau menggerakkan beban yang sangat berat, tetapi kecepatan
akan bertambah kalau beban turun. Motor DC seri dapat membangkitkan torsi starting
yang besar karena arus yang sama yang melewati jangkar juga melewati medan.
Jadi, jika jangkar memerlukan arus lebih banyak, arus ini juga melewati medan,
menambah kekuatan medan. Oleh karena itu, motor seri berputar cepat dengan
beban ringan dan berputar lambat saat beban ditambahkan.
Karakteristik
utama motor DC seri adalah fluksi pada medan motor akan sebanding dengan arus
yang mengalir pada jangkar motor. Apabila beban dari motor meningkat maka
fluksi di motor juga akan meningkat. Torka pada motor sebanding dengan fluksi
dan arus jangkar, karena fluksi pada motor DC seri sebanding dengan arus, maka
torka pada motor DC seri akan sebanding dengan kuadrat arus jangkar. Hal inilah
yang merupakan keuntungan utama dari motor DC seri. Kekurangan dari motor DC
seri adalah kecepatan motor bervariasi terhadap perubahan beban, kecepatan
motor DC berbanding terbalik dengan fluksi, karena fluksi berubah-ubah
mengikuti perubahan torka beban maka kecepatan juga ikut berubah-ubah akibat
beban tersebut.
Kemudian dalam
melakukan percobaan, kami mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui rugi-rugi
rotasional (stay power loses) dengan melakukan uji tanpa beban. Kemudian tujuan
yang kedua mengetahui hubungan arus line, kecepatan motor dan tegangan masukan
motor pada kondisi berbeban. Kami melakukan prosedur kerja yaitu berawal dari
AVR (Automatic Voltage Regulator) yang dihubungkan pada rectifier kemudian
diseri dengan motor DC seri dan generator DC dan mencatat hasil percobaan untuk
yang tidak berbeban. Untuk berbeban, prosedurnya sama hanya saja dari generator
langsung ke beban.
Dari hasil percobaan
yang kami lakukan, kami mendapatkan data-data untuk hasil yang tanpa beban
adalah besar arus medan seri, arus jangkar dan arus line sama yaitu berurutan 0
A, 0.348 A, 0.75 A, 1 A, 1.05 A, 1.07 A, 1.12 A, 1.14 A, 1.159 A, dan 1.162 A.
Untuk besar tegangan masuk 0 V, 5V, 10 V, 15 V, 20 V, 25 V, 30 V, 35 V, 40 V,
dan 45 V. Pada kecepatan putar diperoleh 0, 0, 0, 153.0, 403.0, 678.7, 926.2,
1215, 1438, 1707. Kemudian dari hasil perhitungan untuk mengetahui besar daya
yang masuk adalah 0 watt, 1.74 watt, 7.5 watt, 15 watt, 21 watt, 26.75 watt,
33.6 watt, 39.9 watt, 46.36 watt, dan 52.29 watt. Pada perhitungan SP loses
diperoleh hasil yaitu 0, 0.2035, 0.36, 2.3, 7, 12.25, 17.6, 23.4, 29.3, dan
35.145. Besar dari resistansi kumparan jangkar adalah 3.2 Ohm dan resistansi
kumparan medan seri 9.5 Ohm.
Pada data hasil
percobaan untuk berbeban, dari Ra = 3.2 Ohm dan Rsh = 9.5
Ohm kami mendapatkan arus line, arus jangkar dan arus medan seri secara
berturut-turut yaitu 1.04 A, 1.17 A, 1.2 A, dan 1.24 A. Dari tegangan masuk 45
V kami juga memperoleh kecepatan putar 1690, 1677, 1666, dan 1655. Kemudian dari hasil perhitungan
kami memperoleh daya masukan sebesar 46.8 watt, 52.65 watt, 54 watt dan 55.8
watt. Dari data-data diatas kami memperoleh rugi tembaga, SP loses, total rugi
dan daya yang keluar. Beban yang diatur yaitu sebesar 0, 60, 80, dan 100. Kami
memperoleh total rugi 48.7, 52.48, 53.388, dan 54.65. Kami juga memperoleh SP
loses rata-rata yaitu 35.1 yang pada akhirnya kami mendapatkan ratio persen
adalah -4.2 %, 0.32 %, 1.13 %, dan 2.06 %.
Pada paktikum ini kami
juga mendapatkan hasil grafik tanpa beban, hubungan antara tegangan masuk
dengan kecepatan putar adalah berbanding lurus, dikarenakan jika tegangan masuk
semakin besar maka semakin besar pula kecepatan putar motor. Sedangkan pada
hubungan antara tegangan masuk dengan arus line juga sama yaitu berbanding
lurus. Semakin besar tegangan masuk maka semakin besar pula arus line. Untuk
hubungan motor seri yang berbeban, hubungan antara tegangan masuk dengan kecepatan
putar motor adalah tetap dikarenakan semakin kecil kecepatan putar motor maka
besar tegangan yang masuk adalah tetap. Sedangkan hubungan antara tegangan masuk dengan arus
line adalah tetap. Semakin besar arus line maka nilainya tetap pada tegangan
masuknya.
Wildan Huda (111903102003)
Pada praktikum
yang telah saya lakukan,saya melakukan percobaan mengenai motor dc seri.Dimana
motor dc dirangkai tanpa beban dan motor dc dengan beban.Pada praktikum ini
motor dc di susun seri dan generator disusun paralel.Pada praktikum ini
digunakan beberapa alat dan bahan yaitu:sumber tegangan 1 fasa,:AVR (Automatic Voltage Regulator) ,rectifier (penyearah arus) , motor DC, generator DC,
lampu pijar ( 60W,80W, dan 100W ) dan kabel penghubung ( jumper ). Adapun alat
yang di pergunakan yaitu:AVOmeter digital dan tachometer digital.
Motor
dc merupakan mesin dc yang digunakan
untuk mengubah energi lisrik menjadi energi mekanik. Secara umum motor dc adalah tidak
berbeda dengan
motor dc kecuali pada arah aliran daya. Berdasarkan cara memberikan fluks pada
kumparan medannya.Jika tegangan inputnya tidak stabil maka flux magnet yang
dihasilkan oleh kumparan seri tidak stabil pula, sehingga daya output yang
dihasilkan tidak stabil.
Gambar 2.6
Rangkaian skematik motor DC seri
Motor DC jenis ini mempunyai ciri kumparan penguat medan diseri
terhadap Kumparan armatur . Kelebihan dari Motor DC jenis ini yaitu daya output yang
dihasilkan besar. Sedangkan kelemahannya yaitu arus beban yang diminta
sangatlah besar, sesuai dengan beban yang dipikulnya.Motor
DC Jenis Seri Motor ini terdiri dari medan seri dibuat dari sedikit lilitan
kawat besar yang dihubungkan seri dengan jangkar. Jenis motor DC ini mempunyai
karakteristik torsi start dan kecepatan variable yang tinggi. Ini berarti bahwa
motor dapat start atau menggerakkan beban yang sangat berat, tetapi kecepatan
akan bertambah kalau beban turun
Gambar 2.7 Motor dc Seri
Motor
DC seri dapat membangkitkan torsi starting yang besar karena arus yang sama
yang melewati jangkar juga melewati medan.Jadi , jika jangkar memerlukan arus
lebih banyak, arus ini juga melewati medan, menambah kekuatan medan. Oleh
karena itu, motor seri berputar cepat dengan beban ringan dan berputar lambat
saat beban ditambahkan.
Gambar 2.8 Rangkaian Pengawatan Motor DC Seri
Karakteristik
utama motor DC seri adalah fluksi pada medan motor akan sebanding dengan arus
yang mengalir pada jangkar motor. Apabila beban dari motor meningkat maka
fluksi di motor juga akan meningkat. Torka pada motor sebanding dengan fluksi
dan arus jangkar, karena fluksi pada motor DC seri sebanding dengan arus, maka
torka pada motor DC seri akan sebanding dengan kuadrat arus jangkar. Hal inilah
yang merupakan keuntungan utama dari motor DC seri. Kekurangan dari motor DC
seri adalah kecepatan motor bervariasi terhadap perubahan beban, kecepatan
motor DC berbanding terbalik dengan fluksi, karena fluksi berubah-ubah
mengikuti perubahan torka beban maka kecepatan juga ikut berubah-ubah akibat
beban tersebut.
Kemudian dalam
melakukan percobaan,tujuannya yaitu untuk mengetahui rugi-rugi rotasional (stay
power loses) dengan melakukan uji tanpa beban. Kemudian tujuan yang kedua
mengetahui hubungan arus line, kecepatan motor dan tegangan masukan motor pada
kondisi berbeban. Kami melakukan prosedur kerja yaitu berawal dari AVR
(Automatic Voltage Regulator) yang dihubungkan pada rectifier kemudian diseri
dengan motor DC seri dan generator DC dan mencatat hasil percobaan untuk yang
tidak berbeban. Untuk berbeban, prosedurnya sama hanya saja dari generator
langsung ke beban.
Dari hasil percobaan
yang kami lakukan, kami mendapatkan data-data untuk hasil yang tanpa beban
adalah besar arus medan seri, arus jangkar dan arus line sama yaitu berurutan 0
A, 0.348 A, 0.75 A, 1 A, 1.05 A, 1.07 A, 1.12 A, 1.14 A, 1.159 A, dan 1.162 A.
Untuk besar tegangan masuk 0 V, 5V, 10 V, 15 V, 20 V, 25 V, 30 V, 35 V, 40 V,
dan 45 V. Pada kecepatan putar diperoleh 0, 0, 0, 153.0, 403.0, 678.7, 926.2,
1215, 1438, 1707. Kemudian dari hasil perhitungan untuk mengetahui besar daya
yang masuk adalah 0 watt, 1.74 watt, 7.5 watt, 15 watt, 21 watt, 26.75 watt,
33.6 watt, 39.9 watt, 46.36 watt, dan 52.29 watt. Pada perhitungan SP loses
diperoleh hasil yaitu 0, 0.2035, 0.36, 2.3, 7, 12.25, 17.6, 23.4, 29.3, dan
35.145. Besar dari resistansi kumparan jangkar adalah 3.2 Ohm dan resistansi
kumparan medan seri 9.5 Ohm. Dari data di atas diketahui bahwa
berbanding lurus dengan n(RPM),
,
, dan
. Apabila
semakin
besar maka nilai n(RPM),
,
, dan
semakin
besar pula, begitupun sebaliknya.
Percobaan kedua yang dilakukan percobaan motor
seri berbeban. Langkah – langkah yang dilakukan sebagai berikut. Pertama,
menghubungkan motor DC seri (memasang kopling) dengan generator DC yang
dioperasikan sebagai generator DC seri, yang kedua adalah menghubungkan semua
instrument pengukur dan power supply, yang ketiga adalah mengatur tagangan
input pada nilai tegangan yang menghasilkan putaran nominal pada percobaan
berbeban, yang keempat adalah menaikkan beban secara bertahap dengan menjaga
tegangan input pada nilai nominalnya, yang kelima adalah mencatat nilai pada
pembacaan voltmeter (Vin), dan amperemeter (IL) serta pembacaan tachnometer,
yang keenam menggambarkan kurva putaran sebagai fungsi arus beban, yang ketujuh
adalah menghitung efisiensi motor dalam keaadan berbeban, yang terakhir adalah
melakukan analisis dan membuat kesimpulan.
Data yang diperoleh pada percobaan motor seri
berbeban adalah, dimana Ra=3,2 ohm dan Rsh=9,5 ohm. Beban yang digunakan adalah
0watt, 60watt, 80watt, 100watt. Serta
adalah 45 volt, 45 volt, 45 volt, 45 volt.
,
, dan
yang
diperoleh sama yaitu 1,04A; 1,17A; 1,2A; 1,24A. Dan n(RPM) yang di peroleh
adalah 1690, 1677, 1666, 1655. Berikutnya menghitung
yaitu
.
hasilnya
adalah 46,8; 52,65; 54; 55,8. Menhitung
yaitu
x
hasilnya
adalah 3,46; 4,38; 4,6; 4,92. Menghitung
yaitu
x
hasilnya adalah 10,27; 13; 13,68; 14,68.
Berikutnya total ruginya (
rata - rata + rugi tembaga) adalah 48,7;
52,48; 53,388; 54,65. %
yang di dapat adalah -4,2%; 0,32%; 1,13%;
2,06%. Dan yang terakhir adalah Pout yaitu -1,96; 0,17; 0,612; 1,15. Dari data
diatas dapat diketahui bahwa beban berbanding lurus dengan
,
, dan
dan berbanding terbalik dengan n(RPM), dimana semakin besar beban maka semakin
besar pula
,
, dan
dan n(RPM) semakin kecil.
Herdianto(111903102004)
Motor DC Seri sama seperti motor lain, seri motor mengubah
energi listrik menjadi energi mekanik.
Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip
elektromagnetik sederhana dimana ketika medan magnet dibuat sekitar konduktor yang membawa arus berinteraksi dengan medan magnet luar, gerakan rotasi yang dihasilkan. Sebuah motor DC
seri memiliki semua komponen dasar 6-poros, rotor (angker), stator, komutator,
medan magnet (s) dan kuas-yang hadir dalam motor DC generik. Dalam motor DC
seri daya listrik disuplai antara salah satu ujung gulungan seri lapangan dan
salah satu ujung dinamo. Ketika tegangan diterapkan, arus mengalir dari
terminal listrik melalui gulungan seri dan lilitan angker. Konduktor besar
hadir dalam dinamo dan gulungan medan memberikan perlawanan hanya untuk aliran
arus ini. Karena konduktor yang begitu besar, perlawanan mereka sangat rendah.
Hal ini menyebabkan motor untuk menarik sejumlah besar arus dari catu daya.
Ketika arus yang besar mulai mengalir melalui medan dan gulungan angker,
kumparan mencapai saturasi yang menghasilkan produksi medan magnet terkuat
mungkin.
Gambar 2.9 Rangkaian Pengawatan Motor DC Seri
Motor
DC seri dapat membangkitkan torsi starting yang besar karena arus yang sama
yang melewati jangkar juga melewati medan.Jadi , jika jangkar memerlukan arus
lebih banyak, arus ini juga melewati medan, menambah kekuatan medan. Oleh
karena itu, motor seri berputar cepat dengan beban ringan dan berputar lambat
saat beban ditambahkan.
Karakteristik
utama motor DC seri adalah fluksi pada medan motor akan sebanding dengan arus
yang mengalir pada jangkar motor. Apabila beban dari motor meningkat maka fluksi
di motor juga akan meningkat. Torka pada motor sebanding dengan fluksi dan arus
jangkar, karena fluksi pada motor DC seri sebanding dengan arus, maka torka
pada motor DC seri akan sebanding dengan kuadrat arus jangkar. Hal inilah yang
merupakan keuntungan utama dari motor DC seri. Kekurangan dari motor DC seri
adalah kecepatan motor bervariasi terhadap perubahan beban, kecepatan motor DC
berbanding terbalik dengan fluksi, karena fluksi berubah-ubah mengikuti
perubahan torka beban maka kecepatan juga ikut berubah-ubah akibat beban
tersebut.
Pada
praktikum kali ini kami melakukan percobaan motor DC seri, dimana percobaan
yang dilakukan ada 2 yaitu percobaan motor seri tanpa beban dan motor seri
tanpa beban. Alat - alat dan komponennya adalah, AVR (Automatic
Voltage Regulator), Rectifier, kabel penghubung (jumper), motor DC seri,
generator DC, lampu pijar yang digunakan sebagai beban adalah 60W, 80W, 100W,
alat pengukur yang digunakan AVO meter digital dan tachometer digital.
Percobaan pertama yang
dilakukan adalah percobaan motor seri tanpa beban. Langkah - langkah yang
dilakukan sebagai berikut. Pertama, menghubungkan motor DC seri sebagai motor
seri, yang kedua adalah menghubungkan semua instrument pengukur dan power
supply, yang ketiga adalah menaikkan tegangan input motor secara bertahap
sampai dicapai kecepatan nominal, yang keempat mencatat nilai pada pembacaan
voltmeter (Vin), dan amperemeter (IL), yang kelima adalah menghitung SP losses
rata-rata, dan yang terakhir adalah melakukan analisis dan membuat kesimpulan.
Data yang diperoleh
pada percobaan tanpa beban adalah, dimana Ra=3,2 ohm dan Rsh=9,5 ohm,
serta
adalah 0 volt, 5 volt, 10 volt, 15 volt, 20
volt, 25 volt, 30 volt, 35 volt, 40 volt, dan 45 volt.
,
, dan
yang diperoleh sama yaitu 0; 0,348; 0,75; 1;
1,05; 1,07; 1,12; 1,14; 1,159; 1,162. Dan n(RPM) yang di peroleh adalah 0; 0;
0; 153,0; 403,0; 678,7, 926,2; 1215; 1438; 1707. Berikutnya menghitung
yaitu
.
hasilnya adalah 0; 1,74; 7,5; 15; 21; 26,75;
33,6; 39,9; 46,36; 52,29.
yang di peroleh adalah 0; 0,387; 1,8; 3,2;
3,53; 3,66; 4,01; 4,16; 4,3; 4,32.
yang diperoleh adalah 0; 1,15; 5,34; 9,5;
10,47; 10,87; 12; 12,34; 12,76; 12,82.
yang di dapat adalah 0; 0,2035; 0,36; 2,3; 7;
12,25; 17,6; 23,4; 29,3; 35,145.Dari data di atas diketahui bahwa
berbanding lurus dengan n(RPM),
,
, dan
. Apabila
semakin besar maka nilai n(RPM),
,
, dan
semakin besar pula, begitupun sebaliknya.
Percobaan kedua yang
dilakukan percobaan motor seri berbeban. Langkah – langkah yang dilakukan
sebagai berikut. Pertama, menghubungkan motor DC seri (memasang kopling) dengan
generator DC yang dioperasikan sebagai generator DC seri, yang kedua adalah
menghubungkan semua instrument pengukur dan power supply, yang ketiga adalah
mengatur tagangan input pada nilai tegangan yang menghasilkan putaran nominal
pada percobaan berbeban, yang keempat adalah menaikkan beban secara bertahap
dengan menjaga tegangan input pada nilai nominalnya, yang kelima adalah
mencatat nilai pada pembacaan voltmeter (Vin), dan amperemeter (IL) serta
pembacaan tachnometer, yang keenam menggambarkan kurva putaran sebagai fungsi
arus beban, yang ketujuh adalah menghitung efisiensi motor dalam keaadan
berbeban, yang terakhir adalah melakukan analisis dan membuat kesimpulan.
Data yang diperoleh pada percobaan motor seri berbeban adalah, dimana
Ra=3,2 ohm dan Rsh=9,5 ohm. Beban yang digunakan adalah 0watt, 60watt, 80watt,
100watt. Serta
adalah 45 volt, 45 volt, 45
volt, 45 volt.
,
, dan
yang diperoleh sama yaitu 1,04A; 1,17A; 1,2A;
1,24A. Dan n(RPM) yang di peroleh adalah 1690, 1677, 1666, 1655. Berikutnya
menghitung
yaitu
.
hasilnya adalah 46,8; 52,65; 54; 55,8. Menghitung
yaitu
x
hasilnya adalah 3,46; 4,38; 4,6; 4,92.
Menghitung
yaitu
x
hasilnya adalah 10,27; 13;
13,68; 14,68. Berikutnya total ruginya (
rata - rata + rugi tembaga)
adalah 48,7; 52,48; 53,388; 54,65. %
yang di dapat adalah -4,2%;
0,32%; 1,13%; 2,06%. Dan yang terakhir adalah Pout yaitu -1,96; 0,17; 0,612;
1,15. Dari data diatas dapat diketahui bahwa beban berbanding lurus dengan
,
, dan
dan berbanding terbalik dengan n(RPM), dimana semakin besar beban
maka semakin besar pula
,
, dan
dan n(RPM) semakin kecil.
Septian Mahmud Prayoga
(111903102005)
Motor DC merupakan mesin DC yang digunakan untuk mengubah energi Listrik
menjadi energi mekanik. Secara umum motor DC adalah tidak berbeda dengan
generator DC kecuali pada arah aliran daya. Motor DC seri mempunyai ciri kumparan penguat medan diseri terhadap
kumparan armatur. Kelebihan dari Motor DC seri yaitu daya output yang
dihasilkan besar. Sedangkan kelemahannya yaitu arus beban yang diminta
sangatlah besar, sesuai dengan beban yang dipikulnya, jika tegangan inputnya
tidak stabil maka fluks magnet yang dihasilkan oleh kumparan seri tidak stabil
pula, sehingga daya output yang dihasilkan tidak stabil.
Gambar
3.1 Rangkaian Pengawatan Motor DC Seri
Karakteristik
utama motor DC seri adalah fluksi pada medan motor akan sebanding dengan arus
yang mengalir pada jangkar motor. Apabila beban dari motor meningkat maka
fluksi di motor juga akan meningkat. Torka pada motor sebanding dengan fluksi
dan arus jangkar, karena fluksi pada motor DC seri sebanding dengan arus, maka
torka pada motor DC seri akan sebanding dengan kuadrat arus jangkar. Hal inilah
yang merupakan keuntungan utama dari motor DC seri.
Gambar 3.2
Rangkaian skematik motor DC seri
Kekurangan
dari motor DC seri adalah kecepatan motor bervariasi terhadap perubahan beban,
kecepatan motor DC berbanding terbalik dengan fluksi, karena fluksi
berubah-ubah mengikuti perubahan torka beban maka kecepatan juga ikut
berubah-ubah akibat beban tersebut.
Kemudian dalam
melakukan percobaan, kami mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui rugi-rugi
rotasional (stay power loses) dengan melakukan uji tanpa beban. Kemudian tujuan
yang kedua mengetahui hubungan arus line, kecepatan motor dan tegangan masukan
motor pada kondisi berbeban. Kami melakukan prosedur kerja yaitu berawal dari
AVR (Automatic Voltage Regulator) yang dihubungkan pada rectifier kemudian
diseri dengan motor DC seri dan generator DC dan mencatat hasil percobaan untuk
yang tidak berbeban. Untuk berbeban, prosedurnya sama hanya saja dari generator
langsung ke beban.
Dari
hasil percobaan yang kami lakukan, kami mendapatkan data-data untuk hasil yang
tanpa beban adalah besar arus medan seri, arus jangkar dan arus line sama yaitu
berurutan 0 A, 0.348 A, 0.75 A, 1 A, 1.05 A, 1.07 A, 1.12 A, 1.14 A, 1.159 A,
dan 1.162 A. Untuk besar tegangan masuk 0 V, 5V, 10 V, 15 V, 20 V, 25 V, 30 V,
35 V, 40 V, dan 45 V. Pada kecepatan putar diperoleh 0, 0, 0, 153.0, 403.0,
678.7, 926.2, 1215, 1438, 1707. Kemudian dari hasil perhitungan untuk
mengetahui besar daya yang masuk adalah 0 watt, 1.74 watt, 7.5 watt, 15 watt,
21 watt, 26.75 watt, 33.6 watt, 39.9 watt, 46.36 watt, dan 52.29 watt. Pada
perhitungan SP loses diperoleh hasil yaitu 0, 0.2035, 0.36, 2.3, 7, 12.25,
17.6, 23.4, 29.3, dan 35.145. Besar dari resistansi kumparan jangkar adalah 3.2
Ohm dan resistansi kumparan medan seri 9.5 Ohm.
Percobaan kedua yang
dilakukan percobaan motor seri berbeban. Langkah – langkah yang dilakukan
sebagai berikut. Pertama, menghubungkan motor DC seri (memasang kopling) dengan
generator DC yang dioperasikan sebagai generator DC seri, yang kedua adalah
menghubungkan semua instrument pengukur dan power supply, yang ketiga adalah
mengatur tagangan input pada nilai tegangan yang menghasilkan putaran nominal
pada percobaan berbeban, yang keempat adalah menaikkan beban secara bertahap
dengan menjaga tegangan input pada nilai nominalnya, yang kelima adalah
mencatat nilai pada pembacaan voltmeter (Vin), dan amperemeter (IL) serta
pembacaan tachnometer, yang keenam menggambarkan kurva putaran sebagai fungsi
arus beban, yang ketujuh adalah menghitung efisiensi motor dalam keaadan
berbeban, yang terakhir adalah melakukan analisis dan membuat kesimpulan.
Data yang diperoleh pada percobaan motor seri berbeban adalah, dimana
Ra=3,2 ohm dan Rsh=9,5 ohm. Beban yang digunakan adalah 0watt, 60watt, 80watt,
100watt. Serta
adalah 45 volt, 45 volt, 45
volt, 45 volt.
,
, dan
yang diperoleh sama yaitu 1,04A; 1,17A; 1,2A;
1,24A. Dan n(RPM) yang di peroleh adalah 1690, 1677, 1666, 1655. Berikutnya
menghitung
yaitu
.
hasilnya adalah 46,8; 52,65; 54; 55,8.
Menhitung
yaitu
x
hasilnya adalah 3,46; 4,38; 4,6; 4,92.
Menghitung
yaitu
x
hasilnya adalah 10,27; 13;
13,68; 14,68. Berikutnya total ruginya (
rata - rata + rugi tembaga)
adalah 48,7; 52,48; 53,388; 54,65. %
yang di dapat adalah -4,2%;
0,32%; 1,13%; 2,06%. Dan yang terakhir adalah Pout yaitu -1,96; 0,17; 0,612;
1,15. Dari data diatas dapat diketahui bahwa beban berbanding lurus dengan
,
, dan
dan berbanding terbalik dengan n(RPM), dimana semakin besar beban
maka semakin besar pula
,
, dan
dan n(RPM) semakin kecil.
2.8
Kesimpulan
1. Nilai
arus listrik yang mengalir pada keadaan motor dc seri tanpa beban semakin besar
nilai arus listriknya apabila tegangan masukannya semakin besar juga.
2. Nilai
n (RPM) nya juga semakin naik apabila nilai tegangan masukannya semakin besar.
3. Untuk
daya masukannya semakin besar seiring dengan semakin besar nilai arus listrik
dan tegangannya semakin besar.
4. Nilai
n (RPM) nya semakin turun saat nilai daya beban semakin besar.
5. Daya
yang masuk pada motor dc seri tidak semuanya digunakan, ada sebagian yang
terbuang berupa daya rugi - rugi.
Lampiran
·
Perhitungan
Percobaan Motor DC Seri Tanpa Beban
|
Pin pada saat Vin
35 volt
Pin
= Vin x IL
= 35 V x 1.14 A
= 39,9 Watt
Pin pada saat Vin
40 volt
Pin
= Vin x IL
= 40 V x 1.16 A
= 46.4 Watt
Pin pada saat Vin
45 volt
Pin
= Vin x IL
= 45 V x 1.162 A
= 52.29 Watt
|
|
Pin pada saat Vin 5 volt
Pin = Vin x IL
= 5 V x 0.348 A
= 1,74 Watt
Pin pada saat Vin 10 volt
Pin = Vin x IL
= 10 V x 0.75 A
= 7,5 Watt
Pin pada saat Vin 15 volt
Pin = Vin x IL
= 15 V x 1A
= 15 Watt
Pin pada saat Vin
20 volt
Pin
= Vin x IL
= 20 V x 1.05 A
= 21 Watt
Pin pada saat Vin
25 volt
Pin
= Vin x IL
= 25 V x 1.07 A
= 26,75 Watt
Pin pada saat Vin
30 volt
Pin
= Vin x IL
= 30 V x 1.12 A
= 33.6 Watt
|
|
Pa
pada saat Vin 5 volt
Pa = Ia2 x Ra
= (0.1211A)2 x 3,2 Ω
= 0,387 Watt
Pa
pada saat Vin 10 volt
Pa = Ia2 x Ra
= (0.5625 A)2x3,2 Ω
= 1,8 Watt
Pa
pada saat Vin 15 volt
Pa = Ia2 x Ra
= (1 A)2x3,2 Ω
= 3,2 Watt
Pa
pada saat Vin 20 volt
Pa = Ia2 x Ra
= (1.05 A)2x 3,2 Ω
= 3,528 Watt
Pa
pada saat Vin 25 volt
Pa = Ia2 x Ra
= ( 1.07 A)2x 3,2 Ω
= 3,664 Watt
Pa
pada saat Vin 30 volt
Pa = Ia2 x Ra
= (1.12 A)2x3,2 Ω
= 4,014 Watt
|
|
Papadasaat
Vin 35 volt
Pa = Ia2 x Ra
= (1.14 A)2x 3,2 Ω
= 4,159 Watt
Papadasaat
Vin 40 volt
Pa = Ia2 x Ra
= (1.159 A)2x 3,2 Ω
= 4,298 Watt
Papadasaat
Vin 45 volt
Pa = Ia2 x Ra
= (1.162 A)2x 3,2 Ω
= 4,320 Watt
|
|
Ps
pada saat Vin 5 volt
Ps = Is2 x Rs
= (0,41 A)2 x 9,5 Ω
= 1,150 Watt
Ps
pada saat Vin 10 volt
Ps = Is2 x Rs
= (0.5625 A)2x9,5 Ω
= 5,343 Watt
Ps
pada saat Vin 15 volt
Ps = Is2 x Rs
= (1 A)2x9,5 Ω
= 9,5 Watt
Pspadasaat
Vin 20 volt
Ps = Is2 x Rs
= (1.05 A)2x9,5 Ω
= 10,47 Watt
Pspadasaat
Vin 25 volt
Ps = Is2 x Rs
= (1.07 A)2x9,5 Ω
= 10,87 Watt
Pspadasaat
Vin 30 volt
Ps = Is2
x Rs
= (1.12 A)2x9,5 Ω
= 11,91 Watt
|
|
Pspadasaat
Vin 35 volt
Ps = Is2 x Rs
= (1.14 A)2x9,5 Ω
= 12,34 Watt
Pspadasaat
Vin 40 volt
Ps = Is2 x Rs
= (1.159 A)2x 9,5 Ω
= 12,76 Watt
Pspadasaat
Vin 45 volt
Ps = Is2 x Rs
= (1.162 A)2x 9,5 Ω
= 12,82 Watt
|
|
SP
Losses padasaat Vin 5 volt
SP
Losses = Pin + (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps)
= 1,74-( 0,386+1,150)
= 0,24 Watt
SP
Losses padasaat Vin 10 volt
SP
Losses Pin+ (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps )
= 7,5 -(1,8+5,343)
= 0,36 Watt
SP
Losses padasaat Vin 15 volt
SP
Losses = Pin + (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps)
= 15+(3,2+9,5)
= 2,7 Watt
SP
Losses padasaat Vin 20 volt
SP
Losses = Pin + (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps )
= 21+(3,528+10,47)
= 7,01 Watt
SP
Losses padasaat Vin 25 volt
SP
Losses = Pin + (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps )
= 26,75 +(3,664+10,87)
= 12,22 Watt
SP
Losses padasaat Vin 30 volt
SP
Losses = Pin + (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps )
= 33.6+(4,014+11,91)
= 17,68 Watt
|
|
SP
Losses padasaat Vin 35 volt
SP
Losses = Pin + (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps )
= 39,9 +(4,159+12,34)
= 23,4 Watt
SP
Losses padasaat Vin 40 volt
SP
Losses = Pin + (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps )
= 46.4+(4,298+12,76)
= 27,35 Watt
SP
Losses padasaat Vin 45 volt
SP
Losses Pin+ (Ia2
x Ra)+( Is2 x Rs)
= Pin + (Pa + Ps )
= 52.29+(4,320+12,82)
= 35,15 Watt
|
Σ
SP losses
=
(0,24 + 0,36 + 2,7 + 7,01 + 12,22 + 17,68 + 23,4 + 29,35 + 35,15) Watt
=
389.41 Watt
SP Losses Rata-rata
SPLosses Rata rata =
Σ SP losses
9
= 125.41
9
= 13,93 Watt
·
|
Pssaat
P beban 0 Watt
Ps = Is2 x Rs
= (1.04 A)2x9,5 Ω
= 10,26Watt
Pssaat
P beban50 Watt
Ps = Is2 x Rs
= (1.12 A)2x9,5 Ω
= 11,87Watt
Pssaat
P beban 100 Watt
Ps = Is2 x Rs
= (1.2 A)2x9,5 Ω
= 13,68Watt
Pssaat
P beban125 Watt
Ps = Is2 x Rs
= (1,24 A)2x 9,5 Ω
= 14,60Watt
|
|
Pasaat
P beban 0 Watt
Pa = Ia2 x Ra
= (1,04 A)2x 3,2 Ω
= 3,45Watt
Pasaat
P beban50 Watt
Pa = Ia2 x Ra
= (1.12 A)2x3,2 Ω
= 4,01Watt
Pasaat
P beban 100 Watt
Pa = Ia2 x Ra
= (1.2 A)2x3,2 Ω
= 4,60Watt
Pasaat
P beban125 Watt
Pa = Ia2 x Ra
= (1,24 A)2x 3,2 Ω
= 4,91Watt
|
|
Pinsaat
P beban 0 Watt
Pin = Vin x IL
= 45 V x 1,04 A
= 46,8Watt
Pinsaat
P beban50 Watt
Pin = Vin x IL
= 45 V x 1.12 A
= 50,4 Watt
Pinsaat
P beban100 Watt
Pin = Vin x IL
= 45 V x 1,2 A
=
54Watt
Pinsaat
P beban125 Watt
Pin = Vin x IL
= 45 V x 1,24 A
= 55,8 Watt
|
|
Total Rugi - P beban 0 Watt
TR
=SPLosses Rata rata +
(Pa + Ps )
= 13,93 + ( 3,45 + 10,26 )
= 13,93 + 13,71
= 27,68Watt
Total Rugi - P beban50 Watt
TR
=SPLosses Rata rata +
(Pa + Ps )
= 13,93 + ( 4,01 + 11,87)
= 13,93 + 15,88
= 29,81Watt
Total Rugi - P beban 100 Watt
TR
=SPLosses Rata rata +
(Pa + Ps )
=
13,93 ( 4,60 + 13,68 )
= 13,93 + 18,28
= 32,21Watt
Total Rugi - P beban125 Watt
TR
=SPLosses Rata rata +
(Pa + Ps )
= 13,93 + ( 4,91 + 14,60 )
= 13,93 + 19,51
= 33,44Watt
|
|
%η
saat P beban 0 Watt
%η = (Pout / Pin) x 100%
=
(19,21:46,8) x 100%
= 41,04
%
%η
saat P beban 50 Watt
%η = (Pout / Pin) x 100%
=
(20,59:50,4) x 100%
= 40,85
%
%η
saat P beban 100 Watt
%η = (Pout / Pin) x 100%
=
(21,79:54) x 100%
= 40,35
%
%η
saat P beban 125 Watt
%η = (Pout : Pin) x 100%
=
(23,36:55,8) x 100%
= 41,86
%
|
|
Poutsaat P beban 0 Watt
Pout = Pin–
totalrugi
= 46,8 W – 27,68
= 19,12 Watt
Poutsaat P beban50 Watt
Pout = Pin–
totalrugi
= 50,4 W – 29,81 W
= 20,59 Watt
Poutsaat P beban 100 Watt
Pout = Pin –
total rugi
= 54 W – 32,21 W
= 21,79 Watt
Poutsaat P beban125 Watt
Pout = Pin –
total rugi
= 55,8 W – 33,44 W
= 22,36 Watt
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar